Senin, 21 November 2016

UNTUKMU MUH. YAMIN
Karya yoszy kusuma w

YAMIN OH MUH.YAMIN
ORANG PEMIKIR IDIOLOGI NEGERI INI
SINAR MU MENERANGI PELOSOK NEGERI INI
ZAMAN – ZAMAN MU PENUH PERJUANGAN
YAMIN DAN SEKALI LAGI YAMIN

                                           KELUH KESAH MU DEMI NEGERI INI
                                           USAHA MU HANYA UNTUK KAMI
                                           SUSAH MU HANYA UNTUK BERBAKTI
                                           URUNG BAGIMU TAK BERBAKTI
                                           MAKA TUK ITU KAMI MENGABDI
                                           ANDAI ENGKAU DISINI

WARNA PELANGI TELAH PUDAR
ANAK BANGSA BERBUAT BIADAB
RUPA NEGERI INI TELAH HANCUR
DARAH BERCUCURAN DENGAN DERAS
ADAB DAN ADAT SEPERTI BUKAN MILIK KAMI
NAMUN KAMI KAN TERUS BERJUANG
AKU, KAMI DAN NEGERI INI BERTERIMAKASIH UNTUK MU


Kebenaran Atau Fakta
Karya : Amelya Citra A.

Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua gedung itu. Di lantai dua banyak rak-rak buku yang berbaris berhadapan dan menjulang tinggi. Beberapa diantaranya bahkan sangat tinggi untuk dijangkau, meskipun menggunakan tangga penolong. Aku mulai dari baris rak pertama. Aku perhatikan deretan buku yang tertata disana. Aku penasaran dengan buku-buku yang terletak diatas sana. Sangat tebal dan nampaknya berusia tua. Mungkin jarang dipinjam oleh pengunjung.
Ditanganku masih terdapat dua buku yang belum aku letakkan ditempatnya. Mataku terus berputar mencari lokasi pasti letak buku itu. “Sepertinya diujung sana”, kataku lirih. Aku melihat urutan dari baris buku itu. Aku segera berjalan ke bagian ujung rak buku itu.
“Ya, disini. Akhirnya ketemu”, ujarku senang. Aku segera menempatkan kedua buku tersebut. Sebelum kutinggalkan, kupastikan kembali posisinya. “Sudah cocok”. Aku segera meninggalkan rak itu dan kembali ke meja pendorong yang berisi setumpuk buku. Kuambil buku paling atas dan kuperhatikan nomornya. “Ini di lantai tiga, lebih baik kupisahkan terlebih dahulu”. Aku kembali membagi buku-buku yang tertumpuk tersebut menjadi dua bagian.
Aku ambil kembali buku yang akan dikembalikan di lantai dua. Aku menghitung buku tersebut. “Ternyata ada lima buku”, ucapku perlahan. Mataku kembali memeriksa nomor yang tertera dimasing-masing buku. Kembali kuurutkan dari buku yang bertempat di rak terdekat sampai terjauh.
Aku kembali lagi ke barisan rak buku dan kali ini berjalan lebih kedalam. Aku tempatkan kembali buku-buku tersebut ke posisinya. “Tinggal satu buku”. Aku mengambil tangga untuk membantu meletakkan buku tersebut karena posisinya berada di bagian yang tak dapat kujangkau. Perlahan kunaiki tangga tersebut. Mataku melihat ke nomor-nomor yang tertera di rak tersebut. “Ini dia”, aku berseru ketika menemukan nomor yang pas dengan buku yang aku pegang. Secara hati-hati kumasukkan buku tersebut.
Aku menarik napas panjang. “Lumayan melelahkan”, ujarku lirih. Hari ini aku sendiri yang bertugas mengembalikan buku-buku di perpustakaan ini. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya aku pulang jam sepuluh, tapi karena hari ini ada acara di ruang baca perpustakaan jadi aku harus bekerja lembur. Aku menarik kursi didekat meja petugas. Aku duduk sejenak sambil memperhatikan buku-buku yang akan aku bawa ke lantai tiga.
Mataku menatap satu buku yang tertumpuk paling bawah. Perlahan kuambil buku tersebut dan aku letakkan di mejaku. Aku melihat sampul penutup buku yang kusam berdebu. “Siapa yang meminjam buku ini”, tanyaku dalam hati. Aku bersihkan debu-debu yang menempel di buku tersebut.
Aku lihat nomor yang tertera di tepian buku. “Koleksi lantai tiga”, gumamku. Menilik tahun keluaran buku tersebut, buku yang aku pegang termasuk buku langka. Hanya kalangan tertentu saja yang memilikinya. Selain itu, buku ini jarang digunakan oleh mahasiswa. Biasanya dosen-dosen yang telah berumur yang meminjam buku itu. Itupun hanya dosen tertentu pula. Aku sendiri masih bingung mengapa buku ini bisa keluar dari raknya. Siapakah orang yang meminjamnya. Sepengetahuanku sedari pagi, aku tak melihat catatan yang menunjukkan kalau buku ini sedang dipinjam. Sedangkan jika aku melihat dari kartu yang berada di bagian belakang buku, buku itu tercatat telah dipinjam selama tiga hari.
Aku membuka halaman buku itu. Ini adalah buku sejarah yang ditulis oleh seorang sejarawan yang hidup seratus tahun yang lalu. Namun tanggal penerbitannya tercetak dua puluh tahun sesudahnya. Sebenarnya aku belum pernah membacanya. Namun ada hal menarik yang tercetak di halaman awal buku ini. Sebuah kalimat pembuka yang merupakan pesan dari sang penulis.
“Ungkaplah fakta bukan kebenaran”,
Aku memperhatikan baik-baik kalimat itu. Sepertinya aku pernah mendengarnya. “Ya, sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat itu”, kataku tiba-tiba. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Aku sadar aku pernah bertemu bahkan mengenal seseorang yang mengucapkan kalimat yang sama. “Yang perlu dilakukan adalah manunjukkan sebuah fakta bukan kebenaran”. Suara itu terngiang di kepalaku. “Mungkinkah dia?”, aku bertanya dalam hati.
****
Seseorang segera menghampiriku. “Bisa minta tolong”, katanya. Ia seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluhan. Perawakannya tidak berbeda jauh denganku hanya dia lebih kurus sedikit. Aku segera beranjak dari kursiku dan menghampirinya. “Tentu”, jawabku.
“Aku membutuhkan buku ini”, katanya seraya menyodorkan selembar kertas yang berisi judul dan nomor buku. Segera kuperiksa ketersediaan buku tersebut dan melihat dimana letaknya. “Buku ini terletak di lantai tiga dan termasuk koleksi khusus perpustakaan”, kataku kepadanya. “Bisakah saya melihat identitas Anda karena tidak untuk pengunjung umum”, lanjutku.
“Bisakah saudara menolong saya. Saya bukan salah satu civitas disini”, katanya. Aku segera memperhatikan dirinya. Dari penampilan aku tahu kalau dia merupakan orang terpelajar. “Sekali lagi Minta maaf. Anda tidak diperkenankan meminjam buku itu”, sergahku. Sebenarnya aku penasaran dengan dirinya. Roman mukanya tidak asing bagiku. Tapi, entahlah, mungkin hanya bayanganku saja.
“Tolonglah, aku mohon. Aku sangat membutuhkan buku itu. Buku itu adalah salah satu sumber karyaku. Bisakah saudara menolongku”, pintanya. “Sekali lagi mohon maaf, saya tidak bisa membantu. Namun kalau boleh saya tahu untuk apakah saudara meminjam buku itu”, tanyaku padanya. Sebenarnya aku tak tega melihatnya.
Ada satu hal yang menarik ketika aku mengetahui bahwa dia ingin sekali meminjam buku itu. Buku itu adalah salah satu buku cukup fenomenal menurutku. Dibandingkan dengan karya-karya lain yang sejenis dan ditulis dimasanya, buku tersebut memiliki sesuatu yang berbeda. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Aku mengetahuinya dari dosenku ketika beliau mengajar sebuah mata kuliah dan salah satu sumber yang diajarkan di kelas berasal dari buku itu. Beliau berkata bahwa hanya buku tersebut yang memberikan gambaran secara menyeluruh dan seimbang tentang kejadian pemberontakan seratus tahun yang lalu.
Dan sekarang ada sesorang yang sangat berkeinginan meminjam buku tersebut. Rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul. Siapa sebenarnya orang ini? Namun sudahlah saat ini aku tetap berpegang pada peraturan yaitu tidak diperkenankan meminjamkan koleksi khusus kepada orang luar.
“Tolonglah Tuan, ini penting sekali”, pintanya. Wajahnya menunjukkan kegelisahan. Ia segera meraih tanganku. “Tolong Tuan, jika Anda bersedia membantuku akan kuberikan sebuah buku bagus untuk Anda. Buku itu sangat popular dan Anda pasti menyukainya”, katanya sambil memegang tanganku lebih erat. Aku berpikir sejenak mengenai tawarannya. Kalau memang seperti apa yang dia janjikan dengan senang hati aku bersedia membantunya.
“Anda benar-benar akan memberikan sebuah buku padaku” tanyaku padanya. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. “Aku bersedia membantu. Tapi tidak sekarang. Datanglah pukul sepuluh malam ketika perpustakaan telah tutup. Aku akan meminjamkan buku yang Anda inginkan dengan catatan hanya dibaca di lantai tiga tidak boleh keluar dari perpustakaan ini”, kataku. Matanya segera berbinar. “Terima kasih, terimakasih, Anda sangat baik sekali. Aku akan kembali nanti jam sepuluh”, jawabnya.
***
“Jadi mengapa Anda sangat tertarik dengan buku ini”, kataku sambil meletakkan buku tebal berdebu dihadapannya. Aku menarik kursi dan duduk didepannya. “Anda pernah membacanya?”, tanyanya. Tanpa berbicara aku menggelengkan kepala. “Jika telah membacanya, Anda pasti mengerti”, katanya.
Aku memperhatikan dia membuka halaman demi halaman. Matanya tertuju ke setiap tulisan yang tertera disana. Aku hanya terdiam memperhatikan gerak-geriknya. Kubiarkan dia berkonsentrasi dengan pekerjaannya karena waktu yang tersedia hanya dua jam sebelum tengah malam.
Karena bosan menunggu, aku berbalik ke mejaku. Kuperiksa kembali berkas-berkas hari ini untuk memastikan tak ada kesalahan. Aku ambil sebuah novel yang terletak diatas meja. Sambil menunggu laki-laki itu selesai, akan kuhabiskan waktu membaca novel ini.
“Sudah jam berapa ini”, tiba-tiba aku teringat kalau sekarang telah larut malam. Kuletakkan kembali novel yang baru saja kubaca. Aku bangkit dari tempat duduk dan melihat kearah pojok ruangan tempat laki-laki itu membaca buku. “Dimana dia?”, aku berseru. Aku tak melihatnya. Segera aku menuju ke meja tersebut. “Dia tidak disini”. Aku melihat buku yang baru saja selesai dibaca. Masih tergeletak diatas meja. Buku tersebut terbuka. Kuambil buku tersebut dan aku kembalikan ke raknya.
“Kemana dia?”, tanyaku. Mataku memandang sekeliling ruangan. Kutelusuri tiap baris rak dan meja. Aku tak menemukan orang itu. Aku melihat jam dinding, sudah pukul dua belas. Perasaan bingung dan gelisah segera menghantuiku. Aku takut orang itu mengambil sesuatu dari perpustakaan. Segera kutinggalkan ruangan lantai tiga setelah kupastikan tak seorang pun disana termasuk di kamar mandi. Aku kunci ruangan tersebut dan aku melangkah turun menuju lantai dua..
Aku segera menelusuri kembali rak-rak di lantai dua. Sebenarnya lantai dua telah aku kunci sebelumnya tapi untuk lebih meyakinkan, lebih baik aku periksa sekali lagi. Aku masuk ke ruangan tersebut. Suasana gelap menyelimuti ruangan. Aku nyalakan lampu utama dan segera aku berjalan memeriksa tiap-tiap sudut ruangan. “Tidak ada”, pikirku. “Apa mungkin dia udah keluar tanpa sepengetahuanku”, pikirku. Aku kembali cemas. Suasana malam mulai menggelayut. Lampu ruangan segera kumatikan dan ruangan aku kunci kembali.
***
“Jadi Anda adalah seorang sejarawan”, tanyaku untuk lebih memastikannya. Laki-laki itu mengangguk. “Ya benar. Aku menulis peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau untuk dapat diketahui generasi di masa mendatang”, katanya. “Anda tahu bagaimana susahnya menulis sebuah sejarah secara lengkap. Ada banyak rintangan dan hambatan yang tidak hanya dari sisi konteks sejarah yang bersangkutan. Namun sebagai sebuah ilmu sejarah harus ditulis dengan obyektif. Apapun kondisinya”, katanya.
Laki-laki itu kembali menatap buku tebal didepannya. “Dalam sejarah, tidak harus membuktikan sebuah kebenaran sebuah peristiwa tetapi lebih mengedepankan fakta. Apa gunanya kebenaran tetapi tidak terdapat fakta didalamnya. Itu bukan sejarah tetapi ‘cerita’. Jadi temukan fakta bukan kebenaran. Ungkaplah fakta bukan kebenaran”, katanya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
“Tapi bagaimana kalau fakta yang ada menimbulkan goncangan bagi masyarakat. Fakta sejarah berkebalikan dengan apa yang selama ini dipersepsikan”, tanyaku dengan penasaran. “Itulah seninya. Mana yang Anda pilih kebenaran atau fakta. Dalam persidangan fakta yang diajukan bukan kebenaran. Sang pencuri merasa benar karena mencuri dari seseorang yang jahat. Hal itu benar menurutnya tapi faktanya apakah yakin kalau korban pencuri adalah jahat”, katanya.
Aku terdiam dan menunggu lanjutan kata-kata darinya. Ia memulai kembali pembicaraannya, “Biarkan aku jelaskan lebih sederhana. Mana yang lebih dulu keluar ayam atau telur. Ini adalah pertanyaan klasik. Faktanya ayam berasal dari telur. Faktanya telur juga berasal dari ayam. Keduanya adalah fakta. Lalu mana yang benar. Anda tidak harus mengatakan kedua benar. Kebenaran adalah persepsi individu hasil olah otak dan indera. Kalau saya katakan ruangan ini terasa dingin. Apakah Anda begitu saja menerimanya?. Benar ruangan ini dingin menurut otak dan indera yang saya miliki tapi tidak dengan Anda. Untuk lebih jelas, faktanya suhu ruangan 18o C. Apakah itu dingin atau tidak serahkan pada persepsi masing-masing”.
Aku mendengarkan penjelasan dengan tak mengerti. Sebagian kata-katanya agak sulit dicerna. “Lalu apa yang Anda lakukan dengan buku itu”, tanyaku sambil menunjuk buku yang telah dibuka tiga per empat bagiannya. “Buku ini akan menunjukkan padamu sebuah fakta sejarah. Bukan kebenaran yang selama ini dipahami oleh banyak orang”, jawabnya sambil tersenyum.
Ia selesai membaca buku itu dan meletakkan kembali catatan yang telah disalin ke dalam tasnya. “Sudah jam dua belas. Sesuai perjanjian. Aku telah selesai dengan pekerjaanku. Terimakasih untuk bantuan Anda”, katanya. “Oh ya, boleh aku minta alamat Anda. Seperti yang telah kujanjikan, aku akan mengirim sebuah buku untuk Anda. Kuharap Anda menyukainya”, pintanya. Aku mengambil selembar kertas kecil dan menulis alamat rumahku. “Ini alamatku”, kataku sambil menyodorkan kertas kepadanya. “Sekali lagi terima kasih”, ia mengambil kertas di tanganku dan segera menuju pintu keluar.
“Ingat apa yang aku katakan. Yang perlu dilakukan adalah manunjukkan sebuah fakta bukan kebenaran”, teriaknya sebelum menutup pintu ruangan ini. Aku masih termangu melihatnya pergi. Orang yang unik, pikirku. Sampai saat ini aku belum tahu siapa namanya. Setiap aku tanyakan ia selalu mengelak. Ia berkilah, ada saat ketika nama hanya sebuah bias untuk melihat sebuah fakta sehingga mengaburkan kebenaran yang akan dicerna. Segera kukembalikan buku tebal itu dan kumatikan lampu ruangan.
***
Aku baca penulis buku tebal itu. Kalimat pembuka itu jelas-jelas seperti kata laki-laki itu. “Tunggu sebentar”, tiba-tiba aku teringat sesuatu. aku segera beranjak dan menuju lantai tiga. Aku tahu pasti akan kutemukan jawabannya disana. Aku tiba di lantai tiga dan segera menuju rak baris kedua dari depan. “Disini”, seruku. Aku segera mengambil sebuah tangga.
Sebuah buku yang terletak paling atas dari rak itu kuambil. Ini adalah sebuah buku memoar lama. Debu-debu tercetak disampulnya. Segera kubersihkan buku itu. Dengan hati-hati buku tebal itu kuletakkan di atas meja.
Aku membuka daftar isi. Kutemukan halaman yang kuinginkan. Halaman itu berisi gambar-gambar jaman dahulu. Diperkirakan pengambilan gambar tersbut berlangsung seratus tahun yang lalu, ketika sebuah pemberontakan besar terjadi di negeri ini yang melibatkan banyak tokoh-tokoh penting. Hingga kini, kesimpangsiuran fakta dan kebenaran peristiwa itu masih sering terjadi.
Aku melihat foto-foto pelaku pemberontakan dan korbannya. Selain itu ada ilustrasi yang menggambarkan bagaimana kelompok pemberontak menyiksa dengan kejam dan sadis para petinggi negara tersebut. Kulihat tahun ilustrasi tersebut lima tahun sesudah peristiwa itu terjadi. Kembali aku membuka halaman berikutnya. Lagi-lagi gambar, foto, dan ilustrasi tentang pemberontakan tersebut yang kudapatkan.
Aku membuka halaman terakhir bab itu. “Ini”, aku terkejut. Sebuah foto hitam putih tertera disana. aku lihat kembali foto itu lebih dekat. “Benar tidak salah lagi”, kataku. Aku perhatikan bentuk wajah, hidung, mata, dan gaya rambutnya. Juga foto kedua disampingnya dengan orang yang sama namun berbeda cara berpakaian. “Mungkinkah dia”, aku bertanya dalam hati.
“Apakah dia benar-benar laki-laki itu. Dia nyata atau sekadar ilusiku saja”. Pikiranku berkecamuk. “Jelas-jelas dia memegang tanganku kemarin”, ucapku dalam hati. “Jadi dia orang yang menulis buku sejarah itu”. Aku merasakan bulu kudukku berdiri, lalu kukembalikan buku itu dan bergegas pergi dari perpustakan itu dan keesokanya aku tidak keperpustakan itu lagi karena aku takut bertemu dengan pria itu.


BALAS DENDAM
( KARYA YOSZY KUSUMA W)

      Beta  adalah seorang anak  yang memiliki segudang bakat dan prestasi. Ia  hidup di desa yang amat terpencil, ia menghabiskan waktunya bersama kedua orangtuanya di desa tersebut. Beta  memiliki sahabat yang bernama zulfa, putri dan bahtiar. Ia juga memiliki sahabat yang tinggal di daerah perkotaan , sahabatnya itu merupakan sepupu jauhnya. nama sahabatnya adalah dodit, dia adalah anak dari kakak ibunya beta .Setiap hari minggu dodit dan keluarganya datang untuk berkunjung kerumah neneknya,yang juga neneknya beta. Rumah beta juga berdekatan dengan rumah neneknya. jadi setiap dodit pergi ke rumah neneknya,dodit selalu berkunjung ke rumah nya beta untuk bermain bersama.
      Namun,  hari minggu itu dodit dan keluarganya datang untuk berkunjung kerumah nenek tidak untuk bersilahturahmi. tetapi unuk meminta ijin kepada neneknya. Karena ibunya dodit akan pergi ke hongkong untuk bekerja menjadi TKI dan dodit akan dititipkan di rumah nenek karena tidak ada yang mengurusi dia dan adiknya. Setelah ibunya sudah berangkat ke Hongkong untuk bekerja menjadi TKI, dodit pindah sekolah ke sekolah yang berada di desa bersama beta. beta menghabiskan waktu liburannya bersama dodit. Mereka bermain bersama putri , zulfa dan bahtiar.
      Saat bermain layang - layang bersama  , dodit tidak memiliki layang – layang tapi ingin bermain layang – layang . kemudian dodit meminjam layang – layang milik beta tapi tidak boleh untuk dipinjam, begitupun layang – layang milik bahtiar juga tidak boleh dipinjam .
“ boleh gak aku pinjem layang – layang mu ? “ minta dodit .
“gak boleh, nanti kamu menyangkutkan layang – layang ku nanti “ jawab bahtiar .
dodit pun hanya terdiam dan duduk di pinggir lapangan sambil melihat bahtiar dan beta bermain layang – layang.
     Saat bahtiar ingin buang air kecil,layang – layang milik bahtiar di tali di pohon dan bahtiar pergi untuk buang air kecil. Setelah bahtiar pergi, dodit melapas tali layang – layang milik bahtiar dan kemudian memainkannya tanpa izin dari bahtiar.
’’dit, kenapa kamu melepaskan tali layang - layang milik bahtiar ?” tanya beta.
“aku mau bermain layang – layang sebentar . aku kan gak punya layang – layang.” Jawab
  dodit
” tapi kamu belum minta ijin ke bahtiar !.” ujar beta .
“ halah……! biarin aja kan cuman sebentar aku mainin layang – layang nya “ jawab dodit  .
     Saat ada angin kencang , dodit tidak bisa mengendalikan layang – layang dan  secara tidak sengaja dodit menyangkutkan layang - layang milik bahtiar ke kabel listrik. Seketika itu bahtiar kembali kelapangan dan melihat layang – layangnya sudah tersangkut di kabel listik. Melihat bahtiar kembali dodit langsung kabur dan meningglakan layang – layang yang tersangkut di kabel listrik.Melihat dodit kabur beta hanya terdiam.
“siapa yang menyangkutkan layang – layang ku ? “ tanya bahtiar ke beta.
“ dodit tadi meminjam layangan mu terus saat ada angin layang – layang  mu tersangut ke                                                                              kabel listrik “. Jawab beta
” terus sekarang dia kemana?” tanya bahtiar dengan nada tinggi.
“ dodit kabur dan pergi ke rumah nenek .” jawab beta
     Mendengar kalau dodit kabur ke rumah, bahtiar pergi ke rumah nenek dodit untuk meminta pertanggung jawaban kepada dodit. Sesampainya bahtiar dan beta di rumah nenek nya dodit , bahtiar lantas memanggil dodit . “ dit……dodit ganti rugi layangan ku ! “. Mendengar ada keributan di luar nenek keluar.” Ada apa ini ?” “ ini nek bahtiar mau minta ganti rugi ke dodit karena sudah menyangkutkan layang -  layang nya ke kabel listrik.” Jawab beta . lantas nenek mengganti rugi layang – layang milik bahtiar dengan layang – layang baru.
      Nenek yang mengganti rugi atas kejadian itu merasa kesal atas perbuatan yang dilakukan oleh dodit. Nenek memarahi dodit atas perbuatan tang dilakukannya.
” Dodit seharusnya kamu itu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan ! orang itu kalau berani berbuat juga harus berani bertanggung jawab. Jangan seperti kamu habis menyangkutkan layangan milik bahtiar terus kabur!” kata nenek dengan nada tinggi.
“ iya nek dodit minta maaf “ ujar dodit
     Di sekolah saat pelajaran, dodit ijin untuk pergi ke kamar mandi   namun saat dia mengambil sepatunya di rak sepatu. Dodit melihat sepatunya beta dan berniat balas dendam kepadanya karena sudah melaporkan kejadian itu ke nenek sehingga ia dimarahi oleh nenek.dodit balas dendam dengan cara menali tali sepatunya beta. Lantas dia pergi ke kamar mandi. Setelah sekembalinya ia dari kamar mandi. Dodit bertingkah laku seperti tidak ada apa – apa.
     Setelah bel istirahat berbunyi. Beta pergi ke kantin, namun saat mengambil sepatu . beta terkejut melihat tali sepatunya tertali di rak sepatu. Lantas,beta menyanyakan ke teman – teman siapa yang telah menali sepatunya. Termasuk bertanya ke dodit, ”dit kamu tahu gak siapa yang menali tali sepatuku ke rak ? ” namun dodit menjawab tidak tahu. “ aku tidak tahu siapa yang menali tali sepatu mu “. Karena perutnya beta sudah terasa lapar, beta memutuskan unsuk pergi ke kantin. Beta meninggalkan sepatunya yang masih tertali di rak sepatu dan dilanjutkan setelah membeli jajan di kantin. Saat masuk bel masuk, Beta mencoba kembali untuk melepaskan tali sepatunya dari rak sepatu dan kali ini meminta bantuan putri.“ put boleh minta tolong gak? tolong bantu aku melepaskan tali sepatuku dari rak sepatu !” minta beta.  “ iya bet, aku bantu melepaskan tali sepatumu “ jawab putri. Namun, hingga guru datang tali sepatu belum juga terlepas. Beta memutuskan untuk melanjutkan melepas tali sepatunya nanti.
    Saat berada di kelas guru menunjuk siswa yang akan mengikuti lomba siswa berprestasi, ternyata yang ditunjuk beta dan zulfa. Dodit yang juga salah satu murid yang cerdas di kelas,  mengetahui kalau beta dan zulfa yang ditunjuk untuk mengikuti lomba,dodit merasa tidak terima dan menanyakan ke guru.
” Bu kenapa yang ditunjuk untuk mengikuti lomba siswa berprestasi, beta dan zulfa bukannya saya ? “ . tanya dodit
 “ saya memilih beta dan zulfa karena mereka saya anggap mampu untuk mengikuti lomba itu” jawab guru .
“ bu saya kan juga mampu ikut lomba itu “. Paksaan dodit
“tapi saya mengangap beta dan zulfa lebih mampu untuk ikut lomba itu “ jawab bu guru
“ ya sudah bu !” jawab dodit dengan rasa kecewa.
dodit yang kesal dengan jawaban guru ,lantas dodit minta ijin ke kamar mandi.namun dodit tidak ke kamar mandi. dodit yang kesal langsung memotong tali sepatu milik beta yang masih tertali di rak . setelah di  potong tali sepatu beta di buang di atas genteng sekolah, tanpa diketahui oleh beta dan siapapun.
     Setelah membuang sepatunya beta di tempat sampah sekolah ,dodit langsung pergi pulang ke rumah nenek. Tas dan sepatunya ia tinggal disekolah . saat sampai di rumah nenek, dodit menangis. Nenek yang mengetahui kalau dodit menangis mencoba untuk menenangkan dodit.”dit kamu kenapa menangis ? “  tanya nenek.” Nek….! Aku gak ditujuk sama bu guru untuk ikut lomba siswa berprestasi. Padahal aku kan pinter nek!” jawab dodit mengadu pada nenek. “ mungkin kamu belum mampu untuk ikut lomba itu, mungkin suatu saat kamu yang diajukan untuk ikut lomba” ujar nenek menyakinkan dodit.” Gak bisa nek aku harus ikut lomba itu !” jawab dodit sambil mendobrak pintu kamar.
     Saat jam pulang sekolah beta mencari dodit ke kamar mandi, Karena dodit tidak kembali setelah meminta ijin. “ dit……dodit, sambil mengedor – gedor pintu kamar mandi.” Setelah beberapa lama beta kembali ke kelas untuk melepaskan tali sepatunya dari  rak sepatu. Betapa terkejutnya beta melihat sepatunya hanya ada satu dan sisa potongan tali sepatu di rak sepatu. “ put tahu sepatuku yang sebelah gak ? “tanya beta . “ gak tahu aku mungkin di bawa dodit” ujar putri . “ sekarang dodit kemana ? “ tanya beta . “ gak tahu aku mungkin dodit pulang, tas nya juga masih dikelas. “Tas nya kamu bawa pulang aja ! “ suruh putri. beta pulang ke rumah tanpa alas sepatu serta membawa tasnya dodit dan salah satu sepatunya.
      Setelah sampai di rumah, beta ganti baju. Setelah ganti baju, beta pergi ke rumah nenek untuk mengembalikan tas milik dodit . dodit yang menangis di dalam kamar tidak mau membuka pintu kamarnya. “ dit ……. dodit ini tas mu yang kamu tinggal di sekolah “ .” kenapa kamu kesini kamu pengkhianat” ujar dodit. “ aku khianat tentang apa ?“.nenek yang mendengar ada keributan lantas melerai nya dan menceritakan apa yang terjadi pada dodit ke beta.” Bet, dodit marah itu karena ingin ikut lomba, tapi dia tidak di tunjuk sama gurunya untuk ikut lomba “ ujar nenek. “ yasudah kalau begitu nek ,aku gak usah ikut lomba itu nek !” jawab beta .” gak bet kamu harus ikut lomba , lomba itu harus kamu jadikan sebagai pengalaman dan kamu harus bertanggung jawab atas di tunjuknya kamu sama gurumu.’’ Ujar nenek sambil menyemangati beta.
     Keesokan harinya saat di sekolah. Bu guru memberikan memberikan buku latihan soal untuk beta dan zulfa,saat itu dodit mengetahui hal itu. “ bet , zul ini buku latihan soal untuk kalian pelajari!. Karena buku ini berisi latihan soal yang sama persis saat lomba siswa berprestasi ! “ kata bu guru .” ya bu”. jawab beta. “ nanti lombanya kapan bu ? “ tanya zulfa. “ lombanya akan diadakan besok . Maka siapkan dengan maksimal untulk lomba itu!” jawab bu guru . “ siap bu guru “ jawab beta dengan percaya diri .
     Dodit yang mengetahui saat bu guru menyerahkan buku kumpulan soal ke beta dan zulfa, dodit berencana untuk membuang buku milik beta supaya gagal dalam lomba siswa berprestasi itu. Setelah pulang sekolah,saat beta sedang melaksanakan sholat dhuhur . dodit menyelinap masuk ke rumah beta yang sepi dan  kemudian dodit mengambil buku latihan soal milik beta yang ada di dalam tas beta.setelah dodit mengambil buku milik beta ,dodit berniat untuk membuangnya ke sungai yang ada di depan rumah beta.
     Saat dodit selesai membuang buku milik beta dan akan kembali dari sungai. Saat menyebrangi jalan , dodit tidak melihat kanan dan kiri .tiba – tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi yang langsung menabrak dodit. Setelah di tabrak dodit masih sadar, dodit meminta tolong  dan mobil yang menabrak dodit langsung kabur dan tidak mau bertanggung jawab. “ tolong………………… tolong !”rintihan dodit mengharap pertolongan.
     Beta yang mendengar ada suara rintihan meminta tolong dari dodit. Lansung keluar rumah dan melihat dodit yang sudah tidak sadar. Beta langsung meminta tolong kepada tetangga.” Tolong …………………. Tolong! Dodit kecelakaan , tolong …………… !” para tetangga menghampiri beta dan langsung membawa dodit ke rumah sakit. Beta langsung memberitahu nenek tentang kecelakaan yang terjadi pada dodit. “ nek…………. .nenek ! dodit kecelakaan nek “. “ apa dodit kecelakaan ! sekarang dodit dimana ? “ tanya nenek dengan cemas. “ dodit sekarang di bawa tetangga ke rumah sakit nek “ jawab beta . beta dan nenek pergi ke rumah sakit untuk menghampiri dodit.
     Setelah beta dari rumah sakit, beta pulang untuk belajar mempersiapkan untuk ikut lomba yang diadakan esok hari. Namun, betapa terkejutnya beta saat melihat buku latihan soal untuk lomba esok hari tidak ada di dalam tas nya. Dodit pun mencoba untuk meminjam buku milik zulfa untuk di fotocopy. Malam – malam sekali beta datang untuk meminjam bukunya zulfa. “ fa ………….. zulfa “ suara beta sambil menggedor – gedor pintu rumah zulfa. “ ada apa bet kok malem – malem datang ke rumah ku ? “ .” zul aku boleh pijem buku latihan soal mu gak ? soalnya buku ku hilang. Buku mu mau aku fotocopy zul boleh di pinjem gak ? ” minta beta.” Boleh tapi jangan lama – lama ya ngembalikinnya nanti buat aku belajar buku nya .”
     Selesai memfotocopy buku milik zulfa dan bukunya juga telah dikembalikan . beta baru memulai belajar saat pukul  22.00 wib dan saat larut malam beta  ketiduran saat belajar. Saat berbunyi suara adzan subuh beta menunaikan adzan subuh, setelah melaksanakan sholat subuh beta kembali belajar untuk lomba siswa berprestasi.
    Saat tes lomba siswa berprestasi beta agak kesulitan mengerjakan soal – soal nya . setelah tes beta menunggu hasil tes tulis siswa berprestasi bersama dengan zulfa.Dan saat hasil tes tulis di umumkan ternyata beta masuk 5 besar begitupun dengan zulfa juga masuk dalam 5 besar. Setelah tes tulis beta melanjutkan dengan tes bakat. Dalam tes ini beta menampilkan bakat nya dalam membaca puisi. Setelah tes bakat, nilai dari tes tulis di akumulasi dengan nilai tes bakat. Beta dan zulfa menunggu pengumuman pemenang lomba siswa berprestasi .
”zul kalau kamu menang hadiah mu buat apa ? “ tanya beta
“kalau aku menang hadiahnya akan  aku tabung , kalau kamu hadiah mu mau kamu apain ? “    
   Kata zulfa
“kalau aku menang hadiah nya akan aku kasih ke dodit “ jawab beta
“loooooooo kok dikasih ke dodit ! , kamu kan yang ikut lombanya bet ? “  ujar zulfa dengan
   Terkejut
“aku ngasih hadiah ku ke dodit karena nenek mengatakan kalau dodit ingin sekali ikut lomba ini “ jawab beta menjelaskan ke zulfa
“oh itu alasan mu mau ngasih hadiah mu ke dodit” ujar zulfa
     Saat waktu pengumuman untuk pemenang lomba siswa berprestasi telah tiba. “ peraih juara 3 dalam lomba siswa berprestasi tahun 2015 adalah gita dari sdn golan 01. peraih juara  dalam lomba siswa berprestasi tahun 2015 adalah beta dari sdn bakur 01. peraih juara 1 dalam lomba siswa berprestasi tahun 2015 adalah zulfa dari sdn bakur 01.” Saat mendengar bahwa beta juara 2 beta langsung menangis dan pergi ke rumah sakit untuk menghampiri dodit
     Setiba nya ia di rumah sakit,beta menangis dan menyerahkan hadiah nya kepada dodit
.” Dit…………….  Dodit ini hadiah juara 2 lomba siswa berprestasi. Hadiah ini untuk  mu  dit “ujar beta dengan menangis tersedu – sedu .
 “ gak bet ini hadiah punya mu ini hasil dari kerja keras mu , bet sebetulnya aku mau mengakui kalau yang menali tali sepatu , membuang sepatumu dan membuang bukumu adalah aku bet maafkan aku bet!”  pengakuan dodit sambil menangis.

 Beta kaget dan terkejut mendengar hal itu  “ gak apa – apa dit aku sudah memaafkan kamu, tapi kamu gak boleh ulangi perbuatan itu lagi ! ” jawab beta dengan tegar. Setelah dodit sembuh, mereka kembali bersama tanpa ada rasa ingin balas dendam atau iri . dan mereka sudah saling memaafkan.